Pojok

21 01 2011

(ini juga salah satu syarat kelulusan mata kuliah Penulisan Tajuk Rencana dan Opini, menulis Pojok, maaf kalau garing…:p)

 

Tiffatul tak akui akun @tifsembiring adalah miliknya.

Lempar batu, sembunyi tangan ya pak?

 

Setelah ‘Andai Aku Gayus Tambunan’, ada lagi lagu berjudul ‘Nurdin Turun Downk’ untuk menyindir pemerintahan kita.

Kalau dinyanyikan mungkin lebih ‘enak’ didengar…

 





Pernahkah Gayus Merasa…?

21 01 2011

(Tulisan ini dibuat untuk memenuhi syarat kelulusan mata kuliah Penulisan Tajuk Rencana dan Opini,  Jurnalistik 2008,

Universitas Multimedia Nusantara)

 

 

Lucunya di negeri ini
Hukuman bisa dibeli
Kita orang yang lemah
Pasrah akan keadaan

Itulah yang dirasakan penyanyi Bona Paputungan selama 7 bulan di hotel prodeo. Ia begitu heran dengan para koruptor yang dipenjara, tapi masih bisa dengan enaknya jalan-jalan dan senang-senang sementara dirinya tertekan, pasrah akan keadaan sehingga malah jadi produktif menciptakan lebih dari sepuluh lagu ketika dibui. Alhasil, ‘Andai Aku Gayus Tambunan’ terciptalah. Dengan meminta ijin Kemenham, Bona membuat video klip lagu yang kini menjadi hits dan sudah diklik ribuan orang di Youtube ini.

Pernahkah Anda bertanya-tanya apa yang Gayus Halomoan Pertahanan Tambunan pikirkan ketika mendengar kata ‘penjara’? Sebuah sel dengan jeruji besi , di bawah tanah,  berbau apek, gelap dan dijaga ketat oleh orang-orang berbadan besar, dan juga teman-teman sel yang garang dan punya tatapan membunuh.  Atau Gayus malah berpikir penjara itu seperti kamar kos-kosan yang bisa request mau pakai AC atau tidak, kamar mandi dalam atau kamar mandi luar, bawa televisi atau tidak, bisa pilih besar atau kecilnya ruangan?

Pernahkah juga Gayus berpikir bagaimana rasanya hidup di sel penjara? Kita mungkin berpikir hidup di penjara itu adalah hidup yang penuh tekanan, paksaan dan juga siksaan, baik lahir maupun batiniah. Makan tak enak, tidur pun tak menentu, badan pun makin kurus.

Pernahkah Gayus Tambunan merasakan apa yang Bona rasakan? Tersiksa di penjara dan tak bebas melakukan apapun. Ia memang sukses menjadi fenomena di negeri ini.

Pernahkah Gayus merasa bahwa Ia sudah menjadi selebriti dengan wajah polos layaknya orang yang tak tahu apa-apa. Pertama kali muncul di media dengan penangkapannya di Hotel Mandarin Meritus, Singapura oleh Mabes Polri tahun lalu dan  makin hari, Ia makin menjadi public enemie. Satu persatu korupsi dan kekayaan gelapnya terbongkar, tambah menjadi ketika tiba-tiba ada seseorang yang tertangkap sedang menonton pertandingan tenis di Nusa Dua, Bali dengan menggunakan wig dan kacamata dan disinyalir sebagai Gayus Tambunan. Setelah kasus wig, muncullah passport dan bernamakan Sony Laksono dengan foto orang yang memakai wig dan kacamata seperti yang dipakai Gayus di Bali, lalu tiba-tiba ada berita bahwa Ia ‘plesir’ ke Macau dengan foto-foto yang membuat kita mau tak mau tersenyum miris. Pernahkah Gayus berpikir kalau kelakuan seenaknya jalan-jalan padahal masih berstatus tahanan itu membuat orang geram dan juga membuat iri para tahanan lain?

Pernahkah Gayus merasa bahwa sudah puluhan milyar yang Ia pakai untuk kepentingan dirinya sendiri dan pernahkah juga Gayus berpikir kalau kelakuannya itu merugikan negara?

Pernahkah Gayus merasa bahwa tuntutan Jaksa Penuntut Umum untuk memenjarakan Gayus 20 tahun penjara dengan denda 500 juta itu setimpal dengan perbuatannya? Bahkan, nominal itu masih terlalu kecil dengan uang yang telah Ia gunakan ketika melakukan praktek mafia pajaknya? Pernahkah Gayus bersyukur Ia hanya dijatuhi hukuman 7 tahun dengan denda 300 juta? Ketika Ia bilang bahwa Ia hanyalah rekayasa dari Satgas Pemberantasan Mafia Hukum dan diminta untuk fokus pada tiga perusahaan Bakrie yang telah menyuapnya, pernahkah Ia merasa kalau perkataannya itu malah menimbulkan prasangka lain di mata masyarakat?

Mungkin pertanyaan “Pernahkah Gayus merasa…?” di atas sering terlintas di pikiran kita. Dan mudah-mudahan saja Pak Gayus menjawab “Pernah” untuk setiap pertanyaan yang terlontar…

 





20 Besar Wanita Tercantik di Dunia

16 12 2010

Ini adalah 20 besar wanita tercantik di dunia versi The Annual Independent Critics List of the 100 Most Beautiful Faces. Dan menurut saya, memang mereka wanita-wanita yang cantik dan pantas menempati posisi tersebut.

1. Camilla Belle

2. Emma Watson

3. Tamsin Egerton

4. Leighton Meester

5. Allison Brie

6. Freida Pinto

7. Alice Eve

8.Emily DiDonato

9. Amanda Seyfried

10. Christina Hendricks

11. Kate Beckinsale

12. Marion Cotillard

13. Keira Knightley

14. Natalie Portman

15. Rose Byrne

16. Rihanna

17. January Jones

18. Song Hye Gyo

19. Emily Blunt

20. Rachel Weisz

 

the pretty belle

the vera wang princess

 

 

Christina Hendricks

Christina H

 

sexy january

 

Song hye

Song Hye Gyo

my favourite. ever.

 

rachel weisz

cool!

blogger’s note :

my favourite : Leighton Meester, Song Hye Gyo, Natalie Portman, and Rachel Weisz!! 🙂





Terorisme = Negara Miskin ?

1 10 2010

Ini juga merupakan salah satu tugas Penulisan Tajuk Rencana dan Opini di Universitas Multimedia Nusantara, ternyata masih harus banyak yang diperbaiki kata dosen saya… “baiklah pak!”

Negara kita masih harus waspada dengan keberadaan teroris. Banyak teroris yang suka berada di Indonesia. Mereka “nyaman” tinggal dan berkeluarga di Indonesia. Tak sedikit pula para teroris tersebut adalah orang Indonesia yang tinggal di desa-desa. Mengapa begitu?
Kemiskinan. Ya, balik lagi ke masalah ketidak merataan ekonomi di negeri ini. Rakyat tdk bisa mengandalkan lahan kerja yang diberikan pemerintah. Uang mereka tak cukup untuk membiayai istri dan anak. Jadi, mereka bingung, bagaimana harus menghadapi hidup.
Eksistensi pun jadi terkait dengan menghadapi hidup tersebut. Jika miskin, tak berdaya, lalu mau apa? Itulah yang ‘ditanamkan’ oleh gembong teroris bagi kaki-kakinya. Lebih baik jadi teroris daripada jd buruh yang hanya Rp5000,00 sampai Rp10.000,00 perhari upahnya.
Bagaimana pemerintah menanggapi hal ini? Perhatikanlah rakyat kecil, janganlah menutup mata dengan keberadaan mereka. Perbaikilah ekonomi, berdayakan mereka2 yang berada di daerah terpencil. Jangan pernah rendahkan mereka. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Karena teroris di daerah2 miskin, satu indonesia hancur.
Apakah pemerintah peduli?

Lydia Natasha Hadiwinata

08120110012

Unversitas Multimedia Nusantara

Jurnalistik.





Satu Kata, Tegas.

1 10 2010

Bukan nge-judge, hanya mencoba memberi solusi. Ini tugas Penulisan Tajuk Rencana dan Opini, semester 5 di Universitas Multimedia Nusantara jurusan Jurnalistik.

Lagi-lagi, kita berkonflik dengan Malaysia. Lagi-lagi  pula, kita hanya pasrah dan legowo menghadapinya. Sudah berapa kali batas laut kita ‘diserang’ oleh Malaysia? Berapa banyak pula TKI kita yang menderita tapi tak bisa pulang karena sulitnya birokrasi di negeri jiran?

Ketegasan pemerintah kita seolah luntur jika berhadapan dengan negara serumpun ini. Diplomasi politik kita terlihat dapat dikompromi. Ke mana ketegasan kita? Batas negara kita baik di laut, tanah, dan udara haruslah jelas. Pengelolaan TKI kita juga harus jelas, ada jaminan TKI kita tak ditindas di sana.

Satu kata yang harus dilakukan oleh pemerintah Indonesia,

T E G A S

Lydia Natasha Hadiwinata

08120110012

Universitas Multimedia Nusantara,

Jurnalistik.





Aku dan Budayaku (tugas Komunikasi Antar Budaya Universitas Multimedia Nusantara)

16 03 2010

Nama saya Lydia Natasha Hadiwinata. Saya berasal dari keluarga keturunan Tionghoa campuran. Ayah saya keturunan Cina, dengan ibu dan ayahnya lahir di Cirebon, jadi Cina-Cirebon. Lalu Ibu saya memiliki ibu orang Cina dari Labuan, dan ayahnya dari Padang. Kakek dan Nenek dari ayah, yang biasa saya panggil engkong dan ema, itu adalah keturunan Cina dua-duanya. Sedangkan Nenek dari Ibu, saya memanggilnya Ema dan Kakek saya panggil Datuk karena beliau berasal dari tanah Minang. Memang jika dilihat secara fisik, penampilan saya dengan kedua orang tua saya berbeda jauh. Mereka putih dan sipit, sedangkan saya hitam dan belo, bahkan bertubuh pendek sementara kedua orangtua saya cukup tinggi. Itulah yang membuat saya sebal kalau ditanya tentang ‘saya orang apa’, pasti ketika saya jawab ‘Cina’ , orang-orang akan membelalak dan bertanya ‘masa sih?’.
Saya sendiri selain kesal, juga bingung jika ditanya dari mana asalnya. Karena kalau saya jawab keturunan cina, semua orang pasti bingung. Mengapa bingung? Ya, karena saya memiliki kulit yang hitam dan mata yang besar, dan orang-orang pasti tidak percaya jika saya bilang saya orang cina. Jika mereka melihat orang tua saya, baru mereka percaya.
Saya adalah anak tunggal, tapi saya mempunyai lima orang sepupu dari Ibu dan dua orang sepupu dari ayah. Dua orang sepupu dari ayah berdomisili di Cirebon, dan lima lainnya di Bekasi dan Cibubur. Saya lebih dekat dengan sepupu-sepupu saya dari Ibu yang kebetulan tinggal tidak jauh dari saya dan kelimanya wanita semua. Mereka semua sudah memiliki anak. Hanya saya yang masih kuliah dan belum memiliki momongan. Jumlah keponakan saya sepuluh orang, lucu-lucu dan menggemaskan.
Ada satu hal yang unik dari keluarga saya. Cucu Datuk jumlahnya total 6 orang, dari enam orang tersebut, tiga berkulit putih, tiga lainnya berkulit hitam. Dan saya termasuk yang berkulit hitam tersebut. Keluarga saya adalah keluarga yang kompak, saya seringkali berkunjung ke tempat sepupu-sepupu saya dan bermain bersama anak-anak atau keponakan saya yang lucu-lucu itu.
Saya dibesarkan sendirian oleh orang tua saya, karena saya hanyalah anak semata wayang mereka, namun saya tidak pernah dimanjakan oleh kedua orang tua saya, karena mereka ingin saya mandiri, tidak bergantung pada orang lain. Budaya yang ditanamkan waktu kecil misalnya, jika siang hari, saya harus tidur siang, kalau tidak, saya akan dikurung di kamar dengan harapan saya akan tertidur (padahal saya tidak tertidur, hanya pura-pura saja). Selain itu, saya juga harus makan sampai habis, tidak boleh membuang-buang dan menyia-nyiakan makanan karena makanan itu diberikan oleh Tuhan kepada saya. Selain itu, saya juga harus disiplin waktu, dan harus bisa membagi waktu walau saya masih kecil. Harus bisa membagi waktu kapan belajar, kapan bermain, dan juga kapan mengerjakan PR dari sekolah. Oleh karena itu, saya selalu ranking satu dari Playgroup hingga tamat SD, jika nilai saya turun sedikit saja, orangtua saya bisa kecewa sekali. Ya, walau ketika masuk SMP sudah tidak bisa lagi juara satu, setidaknya nilai saya harus bagus, tidak boleh jelek, walaupun matematika merah. Orangtua saya sudah maklum karena saya tidak suka matematika sejak kecil.
Di rumah, saya dan orangtua saya tidak pernah menerapkan budaya dari kultur manapun. Entah itu dari Cina, Padang, ataupun Cirebon. Kami hanya menjalani hari-hari seperti biasa, ya walau terkadang pola pikir orang tua saya lebih ke Cina atau Tionghoa yang misalnya kita harus memanggil keluarga dengan panggilan seperti ‘engku’, ‘kukong’, ‘cici’, ‘ai’, ‘koko’, dan lain-lainnya. Ya walau saya juga tidak selalu ingat panggilan-panggilan tersebut, karena ya memang di keluarga saya dan keluarga besar kami, kami sudah bukan Cina asli, tidak menganut terlalu banyak kepercayaan Cina. Kebudayaan yang kami jalani adalah kebudayaan yang lebih ke agama kami, yaitu Kristen. Jadi kami hidup selayaknya orang Kristen, bukan terlalu orang Cina, misalnya sebelum makan harus berdoa, sebelum tidur harus saat teduh, ke Gereja tiap hari Minggu, dan menjadi aktivis di acara-acara gereja.
Dari kecil saya memang dibiasakan untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan di Gereja saya, misalnya menyanyi, menari atau drama kalau ada natal ataupun paskah di sekolah dan Gereja. Jadi sampai sekarang, saya pun masih aktif di gereja sebagai pengurus Komisi Remaja GKI Cipinang Elok. Budaya agama yang kuat ditanamkan oleh orangtua saya sehingga saya pun dapat melewati masa remaja yang labil dengan selamat.
Dari dulu sampai sekarang, saya harus berjuang sendiri untuk mendapat apa yang saya inginkan. Misalnya ketika dulu saya ingin masuk sekolah swasta unggulan di Bogor. Saya harus bangun jam 4 pagi untuk menempuh perjalanan Sukabumi-Bogor menggunakan angkutan kota sendirian agar bisa sekolah di sekolah swasta unggulan yang paling bagus di bogor.
Saya tidak pernah bersekolah di sekolah negeri. Sejak kecil saya selalu sekolah di sekolah swasta. Dari Playgroup, TK, dan SD, saya bersekolah di SDK BPK Penabur di Cicurug, Sukabumi, lalu SMP dan SMA saya bersekolah di Regina Pacis Bogor, lalu ketika kuliah, saya berkuliah di Universitas Multimedia Nusantara, jadi saya kadang suka bingung kalau berbicara atau mengobrol dengan anak negeri yang mungkin berbeda jalan pikiran dengan saya. Orangtua saya memasukkan saya di sekolah swasta karena mereka bilang kalau sekolah swasta itu disiplin, mereka ingin saya juga disiplin. Dan ternyata memang, bersekolah di sekolah swasta menempa saya menjadi orang yang sangat amat disiplin, apalagi ketika saya bersekolah di Regina Pacis Bogor, itu betul-betul membuat saya menjadi orang yang disiplin dan bekerja lebih giat dibanding orang lain. Hasilnya terasa di perkuliahan, saya dan tiga orang teman saya yang juga berkuliah di UMN, menjadi orang-orang yang ketika diberi tugas yang menurut orang lain banyak, kami tidak mengeluh dan mengerjakan tugas dengan senang hati karena dulu di SMP dan SMA, tugas kami lebih banyak dan memuakkan dibanding ketika kuliah.
Saya juga terbiasa disiplin karena bersekolah di Regina Pacis Bogor. Guru-guru di almamater saya itu memang sangat disiplin dan keras. Setiap hari kami diwajibkan membuat makalah, tugas yang harus betul-betul dikerjakan dengan hasil otak sendiri, karena mereka akan tahu apabila tugas kami diambil dari internet, kami juga diwajibkan membaca buku pelajaran, dan juga aturan-aturan yang membuat kesal, tapi itu semua membuat kami sangat disiplin dan strict. Misalnya peraturan sepatu hitam dan kaos kaki putih, itu harus ditaati kalau tidak, kami bisa mendapat hukuman, dan sebagainya.
Saya senang dididik dengan cara seperti itu oleh orang tua dan almamater saya, saya cukup bangga karena sekarang saya menjadi orang yang disiplin dan kuat ‘diterpa badai’. Walaupun kadang saya mengeluh dengan peraturan orang tua dan sekolah saya, tapi saya berterima kasih, karena jika tidak begitu, saya tidak akan menjadi seperti ini.
Saya juga tidak menyesal pernah mengalami 6 tahun harus belajar di almamater saya, harus berjuang keras untuk bersekolah di sana, saya bersyukur sekali. Malah saya menjadi orang yang disiplin dan kuat ketika harus menghadapi sesuatu yang sulit di hadapan saya. Saya selalu diajar untuk tidak pantang menyerah, mandiri, dan tidak bergantung pada orang lain. Orang tua saya sangat keras mendidik saya, mereka tidak mau saya menjadi orang yang manja pada orang lain. Mereka ingin saya bisa independen dan disiplin. Saya ingin jadi jurnalis, oleh karena itu saya masuk UMN, itu semua juga tidak lepas dari pengaruh budaya disiplin yang diterapkan oleh kedua orangtua saya. Dan saya tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang sudah saya raih ini. Saya merasa sekali, budaya disiplin yang ditanamkan orang tua saya sejak kecil, memberi pengaruh besar bagi saya sekarang ini.





Demonstrasi Mahasiswa, Bolehkah?

4 01 2010

Demokrasi berasal dari bahasa Yunani, Demos dan Cratein. Demos berarti rakyat, dan Cratein berarti pemerintahan. Jadi, menurut bahasa asalnya, Demokrasi adalah pemerintahan yang berasal dari rakyat. Pemerintahan dijalankan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dalam demokrasi, suara rakyat sangat diperhitungkan dan menjadi bagian dalam pemerintahan itu sendiri.

Negara kita, Indonesia juga menganut paham demokrasi. Rakyat sangat berperan penting dalam pemerintahan, banyak sekali keputusan pemerintah yang berdasarkan keinginan ataupun pendapat rakyat. Mahasiswa, dalam hal ini termasuk juga dalam kategori rakyat tersebut. Bisa kita lihat bahwa beberapa keputusan penting pemerintahan, diambil karena tuntutan mahasiswa yang melakukan demonstrasi. Misalnya, turunnya mantan presiden Soeharto pada era reformasi, itu terjadi karena mahasiswa yang menuntut agar orde baru berakhir dan diganti dengan reformasi. Turunnya almarhum Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pun, juga terjadi karena mahasiswa melakukan demonstrasi demi perbaikan bangsa Indonesia tercinta ini.

Demonstrasi atau gerakan rakyat, merupakan hal yang sudah wajar terjadi di negara-negara yang menganut paham demokrasi. Justru demokrasi tanpa demonstrasi, itu yang aneh. Mahasiswa juga identik dengan demonstrasi. Apalagi ketika suatu rezim atau pemerintahan sudah dirasa tidak baik atau melenceng dari jalannya, biasanya mahasiswa yang paling kritis dan segera melakukan demonstrasi ke jalan. Mahasiswa, dengan semangat dan gejolak masa muda serta sifat kritis yang ada di dalam otaknya, dengan semangat melakukan demonstrasi dan menuntut terjadinya perubahan. Pokoknya setiap ada sesuatu yang tidak beres di pemerintahan, mahasiswa pasti turun tangan dan segera ke jalan menyuarakan perbaikan.

Tapi sebenarnya, apakah demonstrasi itu perlu dilakukan oleh mahasiswa? Seperti yang kita tahu, pekerjaan mahasiswa tidak hanya berdemonstrasi saja, tetapi, ujian-ujian, kuis, UKM, serta tugas-tugas dari dosen yang menumpuk, bahkan ada juga mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. Dengan kegiatan yang sangat banyak itu, apakah relevan jika mahasiswa melakukan demonstrasi?

Suatu waktu, saya menonton film , di film itu ada satu bagian yang menampilkan perjuangan seorang lelaki yang ketika tahun 1998 ikut menyuarakan aspirasinya dengan melakukan demo dan turun ke jalan. Pejuang reformasi, adalah ‘gelar’ yang ia terima dan

sangat ia banggakan pada saat itu. Bahkan ia mengaku sempat beberapa kali bolos kuliah untuk ikut demo dengan teman-temannya. Ia mahasiswa Universitas Indonesia ketika itu.

Ia berpendapat, dulu Ia merasa bangga jika bisa turun ke jalan, berteriak-teriak menuntut reformasi, bergabung dengan teman-teman dari universitas yang sama dengannya, ataupun dengan teman-teman dari universitas lain. Menjatuhkan suatu rezim yang sudah merugikan banyak rakyat merupakan suatu hal yang sangat Ia banggakan. Namun, jika melihat anak-anak muda, mahasiswa-mahasiswa sekarang melakukan demonstrasi, Ia mengatakan, “Apa kepentingannya?”. Dulu, mahasiswa melakukan demonstrasi dan melakukan perjuangan untuk mengganti orde baru dengan reformasi, karena memang itu adalah suatu hal yang harus diperjuangkan. Mereka berdemo karena memang sesuatu yang mereka demonstrasikan adalah sesuatu yang sampai titik darah penghabisan harus diperjuangkan, karena kita tidak mungkin bertahan terus menerus di bawah tekanan orde baru.

Jika mahasiswa sekarang berdemo, untuk apa? Demonstrasi yang mahasiswa lakukan dewasa ini, identik dengan kekerasan dan anarkisme. Ingat demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa dari Universitas Hassanudin di Makassar ketika Hari Anti Korupsi? Ketika di Jakarta demonstrasi dilakukan dengan damai dan terstruktur oleh masyarakat yang notabene bukan mahasiswa, di Makassar mahasiswa malah melakukan anarkisme. Demonstrasi yang dilakukan para mahasiswa UNHAS tersebut berujung pertengkaran dan kerusuhan. Sungguh melenceng dari tujuan demonstrasi yang sebenarnya.

Karena demonstrasi yang dilakukan mahasiswa itu identik dengan kekerasan dan anarkisme, ada beberapa universitas di Jakarta yang melarang mahasiswanya turun ke jalan dan melakukan demonstrasi. Jika ketahuan melakukan demonstrasi, mahasiswa tersebut dapat saja langsung di drop out oleh pihak kampus.

Memang, demonstrasi bukanlah hal yang salah untuk dilakukan oleh mahasiswa, namun, kita harus berpikir, apakah demonstrasi yang kita lakukan ini ada esensinya? Ada tujuannya? Dan apakah tujuan itu dapat terlaksana nantinya kalau kita sudah turun ke jalan? Intinya, janganlah kita kita menyia-nyiakan waktu kita. Orangtua kita memberikan kesempatan kuliah bagi kita, atau bagi kalian yang bekerja untuk membiayai kuliah sendiri, apakah kita mau membuang kesempatan dari orangtua, atau uang hasil kerja keras kita untuk kuliah dengan mati sia-sia? Kita ambil kemungkinan paling buruk, jika kita meninggal dunia atau luka berat karena demonstrasi yang berujung anarkis, apakah kita mau mengambil risiko tersebut?

Jika demonstrasi yang kita lakukan seperti pada tahun 1998 yang benar-benar membuahkan hasil, tentunya itu tidak sia-sia, jikalau kita meninggal dunia, kita meninggal dunia sebagai pahlawan. Demonstrasi, jika kita lakukan sekarang, nampaknya sudah tidak relevan lagi, karena memang belum ada sesuatu yang harus betul-betul diperjuangkan. Janganlah mahasiswa melakukan demonstrasi hanya untuk kesenangan tersendiri berada di jalan dan merasa superior, dan ujung-ujungnya adalah kekerasan, anarkisme dan pertengkaran. Lebih baik kita, sebagai mahasiswa belajar dengan sebaik-baiknya untuk menambah pengetahuan, dan ketika kita ingin menyalurkan aspirasi kita, lebih baik lewat media tulisan saja, sehingga kita menyuarakan aspirasi kita menggunakan otak, bukan sekadar di mulut saja.