Pojok

21 01 2011

(ini juga salah satu syarat kelulusan mata kuliah Penulisan Tajuk Rencana dan Opini, menulis Pojok, maaf kalau garing…:p)

 

Tiffatul tak akui akun @tifsembiring adalah miliknya.

Lempar batu, sembunyi tangan ya pak?

 

Setelah ‘Andai Aku Gayus Tambunan’, ada lagi lagu berjudul ‘Nurdin Turun Downk’ untuk menyindir pemerintahan kita.

Kalau dinyanyikan mungkin lebih ‘enak’ didengar…

 





Pernahkah Gayus Merasa…?

21 01 2011

(Tulisan ini dibuat untuk memenuhi syarat kelulusan mata kuliah Penulisan Tajuk Rencana dan Opini,  Jurnalistik 2008,

Universitas Multimedia Nusantara)

 

 

Lucunya di negeri ini
Hukuman bisa dibeli
Kita orang yang lemah
Pasrah akan keadaan

Itulah yang dirasakan penyanyi Bona Paputungan selama 7 bulan di hotel prodeo. Ia begitu heran dengan para koruptor yang dipenjara, tapi masih bisa dengan enaknya jalan-jalan dan senang-senang sementara dirinya tertekan, pasrah akan keadaan sehingga malah jadi produktif menciptakan lebih dari sepuluh lagu ketika dibui. Alhasil, ‘Andai Aku Gayus Tambunan’ terciptalah. Dengan meminta ijin Kemenham, Bona membuat video klip lagu yang kini menjadi hits dan sudah diklik ribuan orang di Youtube ini.

Pernahkah Anda bertanya-tanya apa yang Gayus Halomoan Pertahanan Tambunan pikirkan ketika mendengar kata ‘penjara’? Sebuah sel dengan jeruji besi , di bawah tanah,  berbau apek, gelap dan dijaga ketat oleh orang-orang berbadan besar, dan juga teman-teman sel yang garang dan punya tatapan membunuh.  Atau Gayus malah berpikir penjara itu seperti kamar kos-kosan yang bisa request mau pakai AC atau tidak, kamar mandi dalam atau kamar mandi luar, bawa televisi atau tidak, bisa pilih besar atau kecilnya ruangan?

Pernahkah juga Gayus berpikir bagaimana rasanya hidup di sel penjara? Kita mungkin berpikir hidup di penjara itu adalah hidup yang penuh tekanan, paksaan dan juga siksaan, baik lahir maupun batiniah. Makan tak enak, tidur pun tak menentu, badan pun makin kurus.

Pernahkah Gayus Tambunan merasakan apa yang Bona rasakan? Tersiksa di penjara dan tak bebas melakukan apapun. Ia memang sukses menjadi fenomena di negeri ini.

Pernahkah Gayus merasa bahwa Ia sudah menjadi selebriti dengan wajah polos layaknya orang yang tak tahu apa-apa. Pertama kali muncul di media dengan penangkapannya di Hotel Mandarin Meritus, Singapura oleh Mabes Polri tahun lalu dan  makin hari, Ia makin menjadi public enemie. Satu persatu korupsi dan kekayaan gelapnya terbongkar, tambah menjadi ketika tiba-tiba ada seseorang yang tertangkap sedang menonton pertandingan tenis di Nusa Dua, Bali dengan menggunakan wig dan kacamata dan disinyalir sebagai Gayus Tambunan. Setelah kasus wig, muncullah passport dan bernamakan Sony Laksono dengan foto orang yang memakai wig dan kacamata seperti yang dipakai Gayus di Bali, lalu tiba-tiba ada berita bahwa Ia ‘plesir’ ke Macau dengan foto-foto yang membuat kita mau tak mau tersenyum miris. Pernahkah Gayus berpikir kalau kelakuan seenaknya jalan-jalan padahal masih berstatus tahanan itu membuat orang geram dan juga membuat iri para tahanan lain?

Pernahkah Gayus merasa bahwa sudah puluhan milyar yang Ia pakai untuk kepentingan dirinya sendiri dan pernahkah juga Gayus berpikir kalau kelakuannya itu merugikan negara?

Pernahkah Gayus merasa bahwa tuntutan Jaksa Penuntut Umum untuk memenjarakan Gayus 20 tahun penjara dengan denda 500 juta itu setimpal dengan perbuatannya? Bahkan, nominal itu masih terlalu kecil dengan uang yang telah Ia gunakan ketika melakukan praktek mafia pajaknya? Pernahkah Gayus bersyukur Ia hanya dijatuhi hukuman 7 tahun dengan denda 300 juta? Ketika Ia bilang bahwa Ia hanyalah rekayasa dari Satgas Pemberantasan Mafia Hukum dan diminta untuk fokus pada tiga perusahaan Bakrie yang telah menyuapnya, pernahkah Ia merasa kalau perkataannya itu malah menimbulkan prasangka lain di mata masyarakat?

Mungkin pertanyaan “Pernahkah Gayus merasa…?” di atas sering terlintas di pikiran kita. Dan mudah-mudahan saja Pak Gayus menjawab “Pernah” untuk setiap pertanyaan yang terlontar…